Menyatukan hati dan pikiran


Bagaimana caranya ?

Hmm, membuat judul ini pun perlu menyatukan hati dan pikiran. Soalnya hati menyangkut dengan niat dan pikiran yg mengolah informasinya dan akhirnya jari jemari yang menerjemahkan kedalam sebuah tulisan.

Tapi bukan itu yang dimaksud kali ini, tapi bagaimana caranya menyatukan hati dan pikiran yang dapat menenangkan dan mendamaikan jiwa.

William James mengatakan, “Penelitian terbesar dari generasi saya adalah bahwa manusia dapat mengubah hidupnya dengan mengubah sikapnya.” Intinya sikap adalah hal kecil yang dimulai dari hati, yang dapat membuat perubahan besar dalam kehidupan seseorang.

Sesuatu yang terjadi dalam hidup kita sebagian besar dipengaruhi apa yang dominan menguasaihati dan pikiran kita. Ketika hati dan pikiran didominasi sesuatu keinginan, kita akan semakin fokus pada hal tersebut. Hal ini melahirkan energi dan motivasi yang kuat mengarahkan kita menjadi apa yang kita pikirkan. Menurut psikoanalisanya Sigmund Freud, dorongan atau energi dari arah dalam diri ini tercipta karena adanya “unconcius mind” atau pikiran bawah sadar. Kekuatan pikiran bawah sadar inilah yang mendorong “inner power” untuk mewujudkan apa yang kita pikirkan.

Banyak orang kurang menyadari kemampuannya memahami bagaimana proses berpikir dan mengendalikan hati dan pikirannya. Akibatnya mereka menjadi budak atau hamba dari hati dan pikirannya. Bukannya memimpin hati dan pikirannya, malahan seumur hidupnya dikendalikan oleh hati dan pikirannya sendiri. Maka kalau ingin menjadi pemenang, mulailah mengubah keyakinan keberhasilan, kesuksesan, disebabkan faktor dari dalam diri kita. Yang menciptakan itu semua adalah hati dan pikiran kita. Berbagai faktor luar lainnya tidaklah mencerminkan diri pribadi kita. Hati dan pikiran yang ada dalam diri itulah yang mengidentifikasikan diri kita. Itulah mengapa menyalahkan faktor luar diri adalah sikap kurang bijaksana.

Mengendalikan hati dan pikiran kita sendiri, artinya kita dapat mengarahkan hati dan pikiran pada hal-hal positif dan indah tentang kesuksesan, sehingga itulah yang akan kita dapatkan. Semakin kuat keyakinan sukses mendominasi pikiran, akan dapat mengubah sikap kita. Sikap yang berubah dapat mengubah perilaku hidup kita. Perilaku hidup berubah, akan mendorong perubahan kinerja kita. Kinerja yang berubah pada akhirnya dapat merubah hidup kita benar-benar menjadi seorang pemenang. Intinya, semakin keras keyakinan sukses, semakin keras usaha kita mewujudkannya dan semakin sulit untuk menyerah. Kedisiplinan inilah yang mendorong keberhasilan seseorang menjadi seorang pemenang.

Menurut Mario Teguh, hati kita adalah lautan yang paling luas. Tapi tidak semua orang memiliki hati yang seluas itu. Diri kita sendirilah yang membuat seberapa luas hati kita.

Ibarat hati yang ibarat segelas air putih, satu ember air, atau pun sebuah danau. Getirnya kehidupan diibaratkan dengan segenggam garam. Jadi dimanakah garam itu akan kita tempatkan. Dengan kita sadari atau tidak, dengan persetujuan kita atau tidak, getirnya kehidupan akan masuk ke dalam hati kita, Yang menjadi permasalahannya adalah seberapa luas hati yang kita miliki. Semakin luas hati yang kita miliki, maka semakin melimpah air untuk melarutkan getirnya kehidupan ini sehingga hilangkah rasa getir dari garam itu. Demikian juga sebaliknya, jika hati kita hanya ibarat segelas air, maka getirnya kehidupan akan kita rasakan sebagai sesuatu yang sangat pahit..

Trus, bagaimana cara memperluas hati kita? Salah satu caranya yaitu dengan menggali berbagai informasi. Bagaimana cara menggali informasi? Caranya dengan menggunakan akal pikiran yang kita miliki. Kita ibaratkan pikiran sebagai sebuah lingkaran, dan hati ada dalam lingkaran itu. Jika kita membuka satu celah pada lingkaran itu (Pikiran kita) kita mendapatkan masukan informasi dan jika kita membuka beberapa celah pada pikiran kita, maka informasi yang masuk ke dalam hati juga akan semakin bertambah dan semakin luas. Jadi, potensi luasnya hati juga ditentukan oleh akal pikiran kita. Jangan kecilkan potensi hati kita untuk meluas hanya karena sempitnya pemikiran kita.

Itulah mengapa Tuhan berfirman kepada kita untuk berfikir (misalnya pada beberapa akhiran ayat yang berbunyi “,,,,,,kenapa kamu tidak berfikir”, itulah perintah Allah agar kita senantiasa menggunakan akal pikiran kita). Ada beberapa kriteria hati yang di kriteriakan oleh Aa Gym, yaitu Hati yang mati, Hati yang sakit dan Hati yang sehat.

Tenangkanlah hati kita, karena hanya dengan hati yang tenang kita dapat meresapi nikmatnya kegetiran ataupun anugerah yang telah Tuhan berikan pada kita. Katakanlah pada diri anda, “Saya mempunyai hati yang luas, karena itu Tuhan memberikan kegetiran hidup pada hati saya, karena Dia tahu saya dapat menerima kegetiran ini, karena orang lain belum tentu memiliki hati yang luas seperti saya “.

Sumber Kopas

About these ads

Perihal BroFahroe
Aremania - RF Engineer - ScorpioZ Rider - Canon 450D User

3 Responses to Menyatukan hati dan pikiran

  1. Sandika Siswana mengatakan:

    bagus

  2. ocha mengatakan:

    aku nggak bisa mengendalikan emosi udah beberapa cara aku lakukan tapi, g ada hasilnya

  3. keep spirit mengatakan:

    Nice :)
    . Semoga kita bisa menjadi pribadi yang sesuai dengan impian masa kecil kita

Berikan Komentar :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 470 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: