Wawancara Juara Fisika


Minggu, 23 Juli 2006
Jonathan Pradana Mailoa
Siswa Terpintar yang Rendah Hati

Ia yang melambungkan nama Indonesia pada kompetisi yang disaksikan empat peraih Nobel itu. Anak muda satu ini masih kelas dua SMA dan gandrung pula bermain Playstation ketika sukses menggondol predikat absolute winner pada Olimpiade Fisika Internasional ke-37 (37th Ipho), 8-16 Juli lalu di Singapura. Namanya, Jonathan Pradana Mailoa.

Lewat Jonathan, Indonesia mengakhiri penantian 13 tahun untuk meraih predikat juara dunia pada kompetisi fisika paling prestisius sejagat ini. Lewat anugerah absolute winner, siswa SMA 1 BPK Penabur Jakarta ini menjadi yang terpintar di antara 386 siswa pintar dari 83 negara.

Selain gelar itu, Jonathan menyabet the best in theory dengan nilai 29,7 (dari skala 30) untuk soal teori. Sedangkan nilai eksperimennya 17,1, terpaut tipis dengan siswa Cina. Selain menyabet absolute winner, dan the best in theory, ia juga diganjar predikat The Best ASEAN Student. Namun, sebuah pesan singkat tiba di telepon seluler Jonathan. ”Terus berjuang. Jangan arogan.” Pesan sms dari kedua orang tuanya di Jakarta. Kepada media internasional di Singapura, Jonathan mengaku cuma beruntung meraih predikat juara dunia.

Wartawan Republika, Iman Yuniarto F, sempat mewawancarai sang juara dunia di sela-sela kesibukannya sebagai peserta Ipho ke-37. Sebagian besar wawancara dilakukan di kampus Nanyang Technological University (NTU) Singapura, usai ujian dan setelah pemberian medali. Wawancara juga dilakukan di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura. Berikut petikannya:

Bagaimana rasanya menjadi juara dunia?
Senang aja ya. Bisa mengharumkan nama bangsa. (Ia tersenyum kecil).

Memang bagaimana persiapan Ipho?
Kita dikarantina selama delapan bulan di TOFI (pusat pelatihan tim Olimpiade Fisika Indonesia di Karawaci, Serpong, Banten,red). Dua bulan terakhir menjelang Ipho kita belajar lebih intensif. Tapi, usai belajar kita tetap bisa santai. Pembimbing saya malah suka ngajak main CS (Counter Strike, game di komputer), ha ha ha.

Berapa jam kamu belajar di markas TOFI setiap harinya?
Enggak dipatok, ya. Yang jelas, kita disodori soal-soal fisika, terus disuruh dikerjakan. Atau diberi buku. Terus buku itu disuruh dibaca tuntas selama satu minggu.

Berat?
Ya, berat juga. Tapi, kalau bosan ya tinggal diselingi baca komik saja. (Prof Yohanes Surya, koordinator TOFI, mengatakan bahwa soal-soal di Ipho ke-37 kali ini setara dengan soal untuk riset Phd. Karena itulah, soal-soal di markas TOFI diorientasikan untuk mengatasi hal tersebut,red)

Menurut kamu, kalau semua siswa Indonesia belajar intensif seperti di TOFI apa bisa berprestasi?
Ya, saya pikir bisa.

Kamu senang komik juga ya?
Ya, senang sekali.

Selain komik, kamu pasti suka baca buku fisika. Ada buku-buku lain?
Tahun ini saya cuma fokus baca buku fisika saja.

Apa kamu sempat homesick saat dikarantina di markas TOFI? Enggak. Enjoy aja.

Apa yang paling menantang pada olimpiade fisika ini? Ujian teori. Lumayan sulit.

Lalu, bagaimana kamu bisa juara di kompetisi tingkat dunia ini?
Barangkali cuma keberuntungan saja. Nilai di antara peserta amat dekat satu sama lain, cuma berbeda tipis saja. Jadi, kalau saya paling tinggi, ya cuma hoki-hokian sajalah.

Setelah meraih medali emas, mau apa lagi? Saya belum ada target. Mungkin saya akan mengejar ketertinggalan di sekolah dulu. Tahun depan kan saya harus kuliah.

Kamu berencana memperkuat Indonesia lagi Ipho tahun depan?
Kayaknya nggak. Kita beri kesempatan kepada yang lain. Banyak yang lebih bagus dari saya.

Siapa kompetitor yang paling dikhawatirkan di kompetisi ini?
Kita mewaspadai Cina. (Cina adalah peraih juara umum tahun lalu. Cina juga memborong lima medali emas tahun ini, namun gagal meraih absolute winner).

Lalu, bagaimana komentar mereka setelah tahu bahwa kamu yang meraih absolute winner?
Mereka bilang sangat terhormat bisa berdiri bersebelahan dengan absolute winner, itu saja.

Cita-cita kamu apa sih, Jo?
Jadi fisikawan.

Mengapa kamu suka fisika?
Ya, fisika itu membuat kita berpikir tentang proses-proses yang terjadi di alam. Itu menarik, sebab kita didorong untuk selalu bertanya mengapa ini begini, mengapa itu begitu, lalu menemukan jawabnya. Buat saya itu seru sekali.

Tak seperti kebanyakan peserta 37th Ipho lainnya, Rabu pekan silam (11/7), Jonathan keluar ruangan dengan roman muka rada cerah. Saat itu adalah tahap ujian eksperimen. Konon, ujian eksperimen kali ini paling tinggi tingkat kesukarannya dan paling banyak jumlah soalnya sepanjang sejarah Ipho. Jonathan baru beberapa langkah keluar dari di Sports Hall National Institute of Education, Singapura, ketika Republika menghampirinya. Dia tidak banyak mengungkap hasil ujian itu. ”Semoga sajalah,” ujarnya ketika ditanya apakah optimistis bakal menang.

Dia sendiri mengaku soal-soal yang diberikan tidak terlalu sulit. Padahal kebanyakan siswa dari luar negeri mengeluh soal amat sulit dan waktu terlalu pendek. Bagi Jonathan, masalahnya hanyalah, ”Jumlah soalnya sekarang lebih banyak, jadi agak repot. Ada empat soal eksperimen.” Ini berbeda dengan tahun lalu yang cuma memberikan dua soal eksperimen.

Ternyata, perjuangan Jonathan tidak sia-sia. Dia sukses meraih predikat absolute winner setelah memperoleh total nilai tertinggi, 46,8. Di urutan kedua adalah siswa Cina, Yang Suo Long, yang mengumpulkan 46,05. Prestasi di kancah internasional agaknya bukan hal baru untuk Jonathan. Beberapa bulan sebelumnya, April 2006, Jonathan menggondol medali perak pada Olimpiade Fisika Asia (Apho) di Khazakstan. Ia juga meraih medali emas pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2005.

Pada Ipho ke-37 di Singapura, secara keseluruhan Indonesia memborong empat medali emas dan satu perak. Ini perolehan medali terbanyak sejak turut serta di ajang Ipho tahun 1993, serta gelar absolute winner pertama. Prof Yohanes Surya, ketua TOFI, mengaku memperoleh informasi dari koleganya, seorang profesor di Norwegia, bahwa kabar tersebut sudah bergaung di Eropa. Para juara Ipho asal Indonesia berpeluang dibidik universitas luar negeri.

Seperti apa sih soal-soal olimpiade ini?
Untuk soal pertama, kita diberi satu papan besi sebagai pemantul, satu beam-splitter untuk membelah cahaya menjadi dua, pemancar dan penerima microwave. Yang ditanyakan berapa panjang gelombang microwave. Error-nya harus kecil sekali, sehingga agak lama mengerjakannya. Angka panjang gelombang diperlukan untuk menjawab soal-soal berikutnya.

Nomor berapa yang menurut kamu sulit?
Kayaknya soal yang nomor dua. Bisa saja diselesaikan, tapi mungkin saya kurang teliti saja. Tapi enggak tahu, saya harus tanya lagi nanti sama teman-teman.

Soal berikutnya?
Di soal yang kedua, kita diberi papan yang dilapisi film, lalu mereka minta berapa indeks bias dari papan tersebut. Itu yang agak sulit. Sementara untuk soal ketiga, kita dikasih dua prisma yang ditempelin. Jarak kedua prisma lantas diubah-ubah sedikit. Intensitasnya bergantung terhadap jarak dari dua prima itu. Lalu ditanya berapa indeks biasnya

Lalu soal yang terakhir?
Kita diberi kotak yang tidak boleh dibuka. Ukurannya sekitar 20x20x20 cm. Kita juga diberi pemancar microwave, lalu dihitung pada sudut berapa dia maksimum interverensinya. Nah, dalam kotak itu ada dua batang besi. Melalui microwave, kita disuruh cari berapa jarak antara dua batang besi itu

Alat-alat apa saja yang diberikan kepada siswa?
Ada prisma, lensa, goniometer, microwave. Macam-macamlah saya agak lupa, jumlahnya kira-kira ada sepuluh alat. Tapi, syukur saya dapat menuntaskannya.

Setelah kamu menang, kabarnya kamu sempat ditawari beasiswa oleh NTU (Nanyang Technological University)?
Ya, ada seorang professor yang menghampiri saya. Tapi, ketika mengetahui bahwa saya masih kelas dua SMA, dia bilang saya belum memenuhi syarat untuk tahun ini.

Tapi, ingin kuliah di luar negeri, kan?
Kepengen. Masih lihat dulu, ada enggak beasiswanya, terus dapat dari mana. Tapi, kalau enggak bisa sekolah di luar negeri, di dalam negeri juga enggak apa-apa.

Kenapa ingin di luar negeri?
Ya, kita tahu sendiri pendidikan di luar negeri lebih baik. Terus terang saya juga ingin belajar di Amerika Serikat, tapi saya dengar beasiswanya lumayan susah dapatnya ya. Tapi, kita lihat nantilah.

Boleh dibilang Jonathan adalah tipikal pria yang amat rendah hati. Usai dikalungi medali emas di auditorium NTU, Ahad (16/7) silam, Jonathan merasa tak nyaman wara-wiri dengan keping emas bergelantung di dadanya. Ia pun ‘menyembunyikan’ medali itu. Dia lebih suka memasukkannya ke dalam saku jas.

Usai meraih predikat juara dunia, majalah resmi Ipho ke-37, ‘Quantum’, menghadirkan sosok Jonathan di headline di halaman tiga. ”I’m just lucky,” begitu judul yang muncul. Soal sikap rendah hati, Jonathan mengaku diajari keras oleh orang tuanya.

Lahir pada 20 September 1989 di Jakarta, ia adalah anak pertama dari dua bersaudara pasangan Edhi Mailoa dan Sherlie Darmawan. Kedua orang tua Jonathan tidak berlatar belakang saintis. Mereka cuma karyawan swasta pada sebuah perusahaan furnitur di Jakarta.

Maka, ketertarikan Jonathan pada bidang fisika seperti jatuh dari langit. Namun pada mulanya, orang tua Jonathan tidak pernah memaksanya menyukai salah satu bidang. Mereka memberi kebebasan total. Dan pilihan Jonathan jatuh pada fisika. Yang jelas, Jonathan mengaku amat dekat dengan papa dan mamanya. Untuk remaja seukuran dia, dukungan dari orang tua dinilainya sebagai syarat penting supaya bisa sukses.

Dia pun tampil seperti remaja umumnya. ”Kayaknya saya cenderung pendiam ya di sekolah.” Bahkan, dia pun mengaku pernah tidak mengerjakan pekerjaan rumah. ”Tapi, waktu SD,” katanya lagi sambil tertawa.

Bagaimana penghargaan dari pemerintah? Kamu kan sempat memperoleh medali perak juga di Olimpiade Fisika Asia (April 2006)?
Katanya kita mau dikasih beasiswa di dalam negeri, itu saja.

Apa yang kamu harapkan dari pemerintah?
Enggak ada. Terserah pemerintah mau kasih apa.

Kami lihat kamu dan teman-teman dapat angpau dari KBRI Singapura. Kalau boleh tahu, berapa jumlahnya?
Masing-masing dapat 200 dolar Singapura (Rp 1,2 juta).

Saran kamu untuk pendidikan di Indonesia?
Menurut saya, di sini perlu ada perbaikan cara belajar. Tapi, memang harus bertahap sih untuk mengubahnya.

Pesan kamu terhadap kaum pelajar di Indonesia?
Pada intinya, kalau belajar, belajar apa saja. Di bidang apa saja. Dan yang terpenting jangan pikirkan hasilnya dulu, tapi enjoy saja dengan apa yang kita pelajari, itu yang paling utama. Setelah itu kita akan lihat sendiri hasilnya.

Kamu peringkat pertama di kelas ya?
Enggak tahu. Karena sekarang sudah enggak ada peringkat-peringkat lagi. Kita cuma diberi tahu berapa total nilai kita. Jadi, kita enggak tahu berapa peringkat kita kalau tidak melihat nilai orang lain.

Kamu rajin belajar setiap hari?
Enggak. Kalau mau ujian saja kok. Ya, paling dua sampai tiga jam.

Kamu pernah tes IQ? Bagaimana hasilnya?
Pernah. Tapi, saya enggak tahu berapa skornya.

Kamu berprestasi sekali, apalagi di ajang olimpiade fisika seperti ini? Pasti kamu jenius.
Itu kan gara-gara beberapa bulan dikarantina di TOFI. Jadi, saya belajar terus.

Eh, ngomong-ngomong sudah punya pacar?
Belum tuh (mesem-mesem).

Kapan mau cari pacar?
Nggak tahu yah. Sekarang mungkin belum waktunya. Saya mau konsentrasi belajar dulu. Mungkin beberapa tahun lagi.

Perihal BroFahroe
Aremania - RF Engineer - ScorpioZ Rider - Canon 450D User

27 Responses to Wawancara Juara Fisika

  1. Jons mengatakan:

    Pemenang,ktenaran,kberhasilan,kebahagiaan,SLAMAT…TAPI jangan lupa jo…bersyukur pada Tuhan.GBU

  2. farah mengatakan:

    keren!!!!!!!!!!! sekarang sudah terrealisasikan ya angan2 kau!!!! keren!!!!!!! kapan balik ke indo???? kangen!!!!! keep ur smart and keep ur heart!!! ehm..ehm…

Berikan Komentar :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: